SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Selasa, 25 Maret 2014

MAMAK

Walaupun secara akademik beliau bukan seorang yg berpendidikan tinggi, tapi naluri keibuan yg dimilikinya membuat nya mendidik anak-anaknya dg sangat cerdas. Soal pendidikan, beliau orang yg paling luar biasa, selalu mendorong anak-anak nya untuk bersekolah setinggi mungkin, walaupun beliau sendiri yg harus turun tangan ikut membiayai dg bekerja.

Suatu hari, ketika saya masih kuliah, ketika berkumpul dg teman sebaya beda perguruan tinggi, entah kenapa, dan siapa yg memulai, kami semua sampai pada pembicara'an tentang pekerjaan ibu. Masing-masing teman saya mengatakan kalau ibu mereka seorang guru, PNS, dll. Giliran saya yg ditanya, ibu bekerja apa, karna waktu itu ibu berjualan nasi kuning, lontong, dan sarapan pagi lainnya untuk membiayai perkuliahan saya, cukup lama saya termenung. Dan tidak menjawab. Sampai ada seorang teman yang "nyeletuk", "kenapa ndra, malu?".
Dg tersenyum dan bangga saya jawab "ya ibu saya cuma penjual lontong, saya termenung bukan karna saya malu, saya hanya berpikir, betapa hebat dan luarbiasanya ibu saya yg hanya seorang penjual lontong, dapat menyekolahkan anak-anaknya, sama seperti Ibu-ibu kalian menyekolahkan kalian". Pada saat itu, saya bertekad untuk kembali membuka mata mereka, jika apa yg ibu saya lakukan tidak akan sia-sia. Di akhir study S1 saya, pada saat wisuda saya tunjukan pada mereka bahwa dari usaha seorang penjual lontong dapat menghasil kan seorang anak yg lulus dg predikat CUM LAUDE dan peringkat pertama ketika wisud.

Yg saya salut dari Beliau adalah sikap beliau yg sangat open minded terhadap segala perkembangan tekhnologi, ibu mana coba yg tidak lulus sekolah dasar, di usia ke 65 masih "nyambung" ketika diajak berbicara tentang perkembangan teknologi. Jangan pernah menyepelekan nya ketika anda tanya "ibu tau dg Ipad? Atau perangkat gadget lain nya" beliau pasti menjawab "bujur ae mamak ne kada sekolah tinggi, sudah tuha, tahu ae jua Ipad tu" yg kurang lebih artinya "walupun ibu tidak sekolah tinggi, sudah tua, tapi ibu tau ipad itu".

Di usianya yg hampir 65 ini, beliau juga sangat cerdas dalam hal makanan. Beliau sangat selektif terhadap apa yg dimakan nya. Andai saja beliau tidak cerdas dan memakan segala makanan, mungkin sekarang beliau sudah terbaring dirumah sakit karna penyakit diabetes nya. Walau pun sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang gizi dan nutrisi dalam makanan, tapi beliau selalu menyuruh saya atau anak-anak nya mencari informasi tentang kandungan gizi, nutrisi, dll dari makanan dan apa dampak nya terhadap penyakit beliau sebelum beliau memakan nya,. Sehingga sekarang pengetahuan beliau tentang itu sangat luar biasa untuk orang tua seusianya. Tidak jarang beliau jg menjadi semacam konsultan bg ibu-ibu sebaya di kampung saya yg mempunyai riwayat penyakit yg sama dg beliau dalam hal memilih makanan.

Inilah sosok ibu yg luar biasa bg saya.

Benarkah Raja Itu bernama "NAMRUD"?

Setiap kata "namrud" disebut, tentulah yg ada dibenak orang adalah seorang raja bengis nan kejam, yg sudah demikian lazim dituturkan dalam cerita merupakan sosok yg telah memberikan perintah untuk membakar Ibrahim as sang khalilullah.

Peristiwa pembakaran disebutkan dg jelas dalam Al Qur'an, Namun Al Qur'an tidak menyebutkan siapa raja yg memerintahkan hukuman bakar itu. Harus pula dicermati, ternyata sejauh pengetahuan saya, tidak ada 1 pun, sekali lg, tidak satupun literatur tafsir menerangkan bahwa raja tersebut adalah "Namrud". Ibnu Katsir misal nya, malah menyebut nama lain, yaitu "Haizan". Al alusi sendiri menyebut nama lain lagi, yaitu "Hayun" atau "Hadir", seorang pria dari Persia, atau menurut pendapat lain dari Akrad.

Dari sekian banyak ulama, hanya Ats Tsalabi seoranglah yg menyebut nama "Namrud" sebagai Nama sang Raja.
Pendapat nya ini justru bertolak belakang dan bertentangan atau kontradiktif dg kajian-kajian mendalam ahli sejarah tentang Iraq Kuno. Khusus nya "Ur", tempat kelahiran Ibrahim As, yg tidak mendapatkan satu pun prasasti atau catatan yg menunjukan bahwa di wilayah itu, pada masa hidup Ibrahim as, pernah berkuasa seorang raja yg bernama "namrud". Dan Faktanya, yg justru ditemukan sesosok raja "ur" lain nya yg bernama "Shoulgi".

Berdasarkan catatan-catatan dimasa itu, diketahui bahwa Shoulgi adalah raja yg sangat angkuh dan haus pengagungan. Ia banyak membangun kuil dg patung-patung sesembahan, khusus nya "Sin", sang dewa bulan. Ia memaksa pula orang-orang yg berada di wilayah kekuasaan nya untuk menyembah dewa itu. Bahkan untuk mengokohkan kekuasaan nya, ia menyuruh pula orang-orang untuk menyembahnya.

Andai memang raja inilah yg hidup di masa Ibrahim as. Maka dapat dimengerti, mengapa ia menolak dg keras peng-Esa'an Allah yg diserukan oleh beliau. Dapat pula di mengerti bagaimana murkanya ia saat Ibrahim as menghancurkan patung-patung sesembahan nya dan kuil yg dibangun nya. (membaca ulang safari panjang kerasulan Ibrahim as, sang leluhur para Nabi)