SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Rabu, 20 Agustus 2014

BALADA FACEBOOK (BEDA PENDAPAT, BLOKIR BERTINDAK)

Tulisan ini saya buat didasari karena keprihatinan terhadap sikap seorang guru/dosen yg saya sangat menaruh hormat kepada beliau dalam segala hal. Bermula ketika tidak menjumpai lagi status-status, pemikiran-pemikiran beliau di beranda facebook dan komentar-komentar beliau yg seringkali mampir di beberapa status saya, setelah mencari tahu. Ternyata beliau memblokir akun saya. Bukan kapasitas saya tentunya dalam tulisan ini untuk menjelaskan lebih jauh kenapa sampai beliau melakukan pemblokiran. Mungkin jika bertemu, saya akan tanyakan langsung kepada beliau.

Akan tetapi di luar motif kenapa dan kenapa yg masih menyisakan tanya, saya sedikit ingin membahas tentang perbedaan pendapat.

Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yg heterogen dalam hal kesukuan, multikultur yang egaliter, bapak banjar dan ibu jawa. Sehingga tidak mengherankan jika perbedaan pendapat seringkali terjadi, entah antara kedua orangtua, anak dan orangtua, atau adik dengan kakak kandung, biasa-biasa saja. Tidak putus hubungan karena beda pendapat.
Berangkat dari sanalah jika pada akhirnya saya sudah terbiasa bahkan tidak pernah sungkan untuk berbeda pendapat dengan siapapun, termasuk dengan teman sejawat, bahkan seorang yg pernah menjadi dosen saya sekalipun.
Waktu kuliah biasa saja saya berbeda pendapat dengan dosen, terutama dosen yg terbiasa berpikir dan bersikap egaliter, membuka ruang, wellcome serta tak marah untuk berbeda pendapat dengan mahasiswa. Seringkali saya selalu berbeda pendapat dengan dosen, ketika merasa mempunyai "amunisi" yang lebih argumentatif ketimbang pendapat yang beliau sampaikan, lalu kemudian ditimpali dengan argumen yang tidak kalah masuk akal pula oleh dosen yang bersangkutan. Seringkali suasana seperti ini saya jumpai semasa kuliah. Ada beberapa dosen yang memberikan apresiasi terhadap mahasiswa yang selalu bersikap kritis disertai dasar yang jelas dan masuk akal, tidak jarang pula sebagian dari mereka menutup kesempatan untuk berbeda pendapat.

Di facebook pun tidak terkecuali, saya tak sungkan pula berbeda pendapat, dengan teman dekat sekalipun, bahkan beberapa teman yang dalam banyak hal dan moment selalu saling mendukung dan sepaham. Dari sinilah akan diuji kedewasaan, apakah dendam atau tidak atas sebuah perbedaan, waktu yang akan membuktikan.

Sesama teman seagama saja bisa saling berbeda pendapat, tidak sekali dua saya berbeda pendapat dengan bang Oyonk Maldini. Namun tak menghilangkan nalar dan tetap saling menghormati, serta tidak mengurangi kekaguman saya dalam banyak hal lain nya. Sangat penting membiasakan diri dalam perbedaan pendapat atau perbedaan paham, paham apapun. Karena realitas kehidupan ini memang penuh perbedaan. Terbayang betapa menyiksanya hidup jika anti perbedaan. Semua maunya seragam, termasuk seragam dalam pendapat. Wah bisa bahaya.

Satu-satunya jenis perbedaan pendapat yang tidak saya tolerir adalah bila sampai menyerang pribadi atau bukan fokus pada argumen (argumentum ed hominem). Saya tak sungkan "menendang" keluar arena diskusi orang-orang yang gemar menghina pribadi, caci maki, hujatan, sumpah serapah, tanpa dasar yang jelas. Bahkan dalam beberapa kesempatan juga sampai tahap pemblokiran jika dinilai sudah sangat mengganggu dan menghindarkan dari pertengkaran yang lebih besar. Walaupun dalam banyak kesempatan, saya memilih diam dan membiarkan. Diluar itu bebas saja, mau berbeda pendapat atau mendebat postingan saya, mau sampai jungkir balik pun beda pendapat dipersilahkan dan sangat menyenangkan. Terlalu "kekanak-kanakan" dan berlebihan jika pada akhirnya perbedaan pendapat yang sangat wajar berujung pada pemblokiran, apalagi jika itu dilakukan seorang akademisi dan seorang dosen. Fokus pada argumen dan tidak argumentum ed hominem, itu kuncinya.

Wallahu ta'ala a'lam.

UMMI BUKANLAH SUATU KEKURANGAN


Masyarakat Jazirah Arab sangat menjunjung tinggi budaya hafalan. Kemampuan mereka dalam hal ini sangat mengagumkan. Demikian mengagumkannya sampai-sampai "qulūbuhum mashāhifahum" (kalbu mereka adalah bagaikan lembaran kertas), demikian Ka'ab al-Ahbar mengilustrasikannya. Di kalangan mereka, seseorang yang memiliki kemampuan menghafal yang baik akan diposisikan mulia.

Karena budaya hafalan ini, ditambah dengan sulitnya mendapatkan alat tulis menulis, budaya menulis dan membaca tidaklah dominan. Bagi beberapa kalangan, memiliki kemampuan menulis dan membaca malah dianggap sebagai sebuah kekurangan, bahkan aib! Karena itu, adalah keliru siapapun yang menilai bahwa keadaan Nabi saw. yang "ummī" (tidak dapat membaca dan menulis) adalah berarti adanya kekurangan pada diri beliau. Di zaman kita sekarang, ketidakmampuan seseorang dalam membaca dan menulis memang sebuah kekurangan, namun tidak demikian halnya di zaman itu.

Walaupun demikian, itu tidak berarti bahwa budaya menulis dan membaca tidak tumbuh sama sekali. Sejumlah kalangan masyarakat Arab tetap memiliki kemampuan itu. Seorang peneliti, misalnya, menemukan sebuah manuskrip tertulis yang berisi perjanjian utang piutang antara Hâsyim, kakek Nabi saw., dengan mitra dagangnya. Lalu, di dinding Ka'bah, tergantung pula al-mu'allaqât, yaitu puisi-puisi terbaik karya para penyair Mekkah. Dua contoh itu menjadi bukti bahwa tetap ada sejumlah pihak di zaman itu yang mementingkan tulis menulis walaupun, sekali lagi, budaya itu tidak dominan.

Harus dicatat bahwa budaya hafalan ini tidak selalu berarti buruk. Di kemudian hari, kemampuan menghafal mereka yang mengagumkan ini memiliki peran sangat penting dalam penjagaan dan pelestarian al-Qur'ân.

-------

Membaca Ulang Sirah Nabi saw. tentang "Ummī Bukanlah Suatu Kekurangan."