SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Rabu, 01 Januari 2020

KISAH CINTA SALMAN AL-FARISI SANG ARSITEKTUR PERANG KHANDAQ YANG "DI TIKUNG" ABU DARDA

Kisah tentang sahabat rasul memang banyak menyimpan ibrah dan teladan. Termasuk sepenggal episode kisah dua orang sahabat rasul, Salman al-Farisi r.a. dan Abu Darda r.a. yang memang sudah begitu populer.

Adalah seorang Salman al-Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah saw berdarah Persia. Sebelum memeluk Islam, ia termasuk bagian dari orang-orang majusi, penyembah api (Zoroaster). Namun ketika cahaya Islam menyentuhnya – layaknya para sahabat yang lain – menjadi salah seorang yang militan dan semangat dalam membela Islam.

Suatu ketika Salman al-Farisi tengah gundah gulana, sang arsitek Perang Khandak tersebut tengah mencari jodoh. Mungkin lama sudah ia membujang hingga perlunya  ingin segera mengakhiri masa kejombloannya.

Rupanya Salman al-Farisi telah lama mengincar salah seorang perempuan salihah yang hendak ia khitbah dalam waktu dekat. Menurur riwayat, perempuan pujaan Salman tersebut adalah gadis Anshor yang merupakan seorang mu’minah nan cantik lagi salihah.

Namun urusan khitbah bukan permasalahan sepele bagi Salman, ia butuh seorang perantara untuk menyampaikan keinginannya melamar sang pujaan. Terbesitlah salah seorang sahabat karibnya untuk dimintai pertolongan, Abu Darda.

Madinah bukanlah tempat kelahiran dan daerah asal Salman al-Farisi, oleh karenanya ia meminta Abu Darda menjadi perantara prosesi khitbahnya. Keinginnan Salman pun disampaikan ke Abu Darda. “Subhanallah wal Hamdulillah” ucap Abu Darda  dengan penuh kegirangan setelah mendengar keinginan sahabatnya Salman yang hendak meminta bantuannya perihal lamar-melamar.

Abu Darda pun tak perlu pikir panjang, dengan senang hati ia membantu hajat sahabatnya tersebut.

Hingga tiba waktunya mereka berdua menuju ke rumah gadis anshar yang  disukai oleh Salman al-Farisi. Setelah sampai di rumah orang tua fulanah tersebut, Abu Darda bertemu dengan kedua orang tuanya. Tanpa babibu panjang lebar, Abu Darda mengungkapkan perihal maksud kedatangannya.

“Saya adalah Abu Darda dan ini adalah saudara saya Salman al-Farisi dari Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia telah memiliki kedudukan mulia di mata Rasulullah Saw. hingga beliau menyebutnya sebagai ahlul bait,” ucap Abu Darda dengan penuh wibawa.

“Saya datang ke sini mewakili saudara saya Salman al-Farisi untuk melamar putri Anda”.

Ternyata sang gadis telah mendengar sayup-sayup dari bilik rumah perbincangan antara kedua orang tuanya dan Abu Darda. Sang Ayah dari seorang putri yang diidamkan oleh Salman pun mengembalikan semua keputusan pada putrinya, apakah menerima atau menolak.

Lantas sang Ibunda berbicara mewakili putrinya dan takdir Allah berkehendak lain. “Maafkan kami atas keterusterangan ini, putri kami menolak dengan penuh hormat pinangan ananda Salman al-Farisi.”

Tak cukup sampai disitu, bak halilintar di siang bolong, Ibu dari sang putri shalihah berucap “Namun jika Saudara Abu Darda memiliki tujuan yang sama, maka putri kami lebih memilih antum sebagai calon suaminya.”

Bayangkan jika kita berada di posisi Salman saat itu, apa yang akan kita lakukan mendengar hal tersebut.

Namun tidak demikian dengan Salman al-Farisi, di sinilah letak kemuliaan manusia-manusia hasil didikan Rasulullah Saw. Dengan fasih dan berwibawa ia berujar “Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan ini aku serahkan kepada Abu Darda.”

Tak cukup berkata itu, Salman kembali mengucap lantang “Dan aku akan menjadi saksi atas pernikahan kalian”.

Kisah tersebut akhirnya termaktub dan mengekal dalam sejarah Islam karena kemuliaan Salman al-Farisi yang tidak menuhankan cinta semata. Bayangkan jika Salman bersikap sebaliknya, berputus asa, galau merana, lari mengambil pisau atau mencari tebing untuk mengakhiri hidupnya, mungkin hanya akan menjadi romansa picisan yang cepat berlalu.

Perihal khitbah, nikah dan jodoh adalah satu hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Terlebih di awal tahun ini, ratusan jomblo dipastikan melepas masa lajangnya sekaligus masih banyak pula para jomblo yang semakin galau melihat berderet sahabat angkatan gengnya telah menikah.

Hikmah dari kisah tersebut tidak semata meneladani kualitas akhlak dan keimanan Salman al-Farisi semata, tentu masih ada hikmah yang lain. Yaitu untuk kaum jomlo biar gak jadi pagar makan tanaman alangkah baiknya pastikan ‘mak comblang’ yang kamu pilih saat melamar si dia tidak lebih keren atau lebih tampan daripada kamu, tidak juga lebih kaya dari kamu, syukur-syukur dia sudah menikah, tentu itu lebih aman. Intinya tetap semangat aja mencari jodoh ya mblo.😅😅

Wallahu ta'ala A'lam

Selasa, 19 November 2019

TA'LIM AL-MUTA'ALIM, HORMATILAH GURUMU!!!


Berkaitan dengan hari guru Nasional yang diperingati 25 November 2019, saya ingin mengulas sedikit tentang salah satu buku (kitab) klasik yang sangat menarik, berjudul Ta’lim Al-Muta’allim.

Redaksi buku klasik berjudul “ta’lim al-muta’allim” ini tipis saja, hanya 63 halaman. Buku yang arti judulnya kira-kira “Pedoman untuk Para Pelajar” ini ditulis oleh Ibrahim bin Isma’il al-Zarnuji, seorang tokoh (ulama) pendidikan islam asal tranxosinia yang wafat pada tahun 1194 (591 M). Walaupun tipis, buku ini dipelajari di banyak pesantren sampai sekarang. Bahkan tidak jarang menjadi buku wajib. Isinya mengulas konsep belajar serta berbagai tips yang harus diperhatikan oleh mereka yang sedang menimba ilmu. seorang guru seharusnya juga mengenal buku ini.

Mereka yang membaca buku ini, sekilas akan segera menangkap banyaknya konsep-konsep kontroversial di dalamnya. Konsep-konsep itu, mungkin, akan dinilai tidak lagi relevan dengan spirit pendidikan yang saat ini berkembang, khusus nya sekolah umum. Kontroversi akan dirasakan sejak bagaimana Ibrahim Al-Zarnuji mengenalkan filosofi dasar belajar, nilai-nilai moral, sampai ke kiat-kiat praktis yang harus dipraktekkan para pelajar untuk bisa mencapai prestasi.

Belajar, menurutnya, adalah aktifitas yang harus sepenuhnya berorientasi ukhrawi serta harus didorong oleh motivasi semata-mata karena Allah. Belajar adalah bukti rasa syukur kita terhadap anugerah akal dan indera dari-Nya. Bangunan falsafah dasar seperti ini mengharuskan adanya kesiapan total para pelajar untuk menjadikan belajarnya sebagai sebuah perjalanan spiritual suci yang diyakini memiliki nilai ibadah di hadapan Allah. Akibatnya, serangkaian kiat-kiat praktis, yang oleh sebagian orang terasa mengekang, pun diwajibkannya

Di antara kiat praktis al-Zarnuji itu (dan sangat banyak mengundang ketidaksetujuan dari para pemerhati pendidikan), misalnya, keharusan total para pelajar untuk patuh kepada gurunya dalam hal apapun, kecuali melakukan sesuatu yang bernilai “maksiat” di hadapan Allah SWT. Pelajar harus menjadikan dirinya sebagai gelas kosong yang siap diisi dengan air yang diciduk dari samudera ilmu sang guru. Guru, masih menurut Ibrahim Al-Zarnuji, adalah jembatan utama bagi sampainya pengetahuan kepada para penimba ilmu. Sebagai jembatan utama, seorang pelajar harus memilih dengan sangat hati-hati kepada siapa akan berguru.

Ketika guru sudah dipilih, ia harus diperlakukan secara terhormat. Para murid tidak boleh membuatnya tidak enak hati, tidak bertanya jika tidak diperintahkan, tidak boleh berbicara jika tidak dipersilahkan, harus mengambil jarak saat duduk didekatnya, tidak mengetuk pintu kediamannya sampai sang guru keluar sendiri, dan lain sebagainya. Menolak kiat-kiat praktis ini akan menyebabkan para pelajar kehilangan berkah dan manfaat dari pengetahuan yang dipelajarinya.

Kontroversial dan sangat mengekang murid bukan?

Untuk anda para pemerhati konsep pendidikan saat ini, pasti akan menolaknya. Pada awalnya, saya pun bersikap semacam itu. Namun, ketika buku itu saya lihat dalam bingkai sufisme dan tradisi dunia tashawwuf serta penghormatan dalam rangka memuliakan guru sehingga mendapatkan keberkahan ilmu, (sarjana-sarjana Pendidikan Islam pasti paham benar dengan konsep ini) segera saya menangkap adanya spirit lain. Dunia tashawwuf adalah dunia yang secara ketat mempraktekkan berbagai disiplin lelaku semacam itu. Kematangan dan pencerahan jiwa hanya akan diperoleh oleh mereka yang menerapkan konsep dan disiplin ketat semacam itu. Saya melihat, dalam spirit tashawwuf inilah Ibrahim al-Zarnuji menulis buku tipisnya itu. Lebih-lebih ketika al-Zarnuji menyebut serentetan kisah “sukses” guru-gurunya dahulu serta tokoh-tokoh besar Islam dalam karier keilmuan mereka. Kesuksesan mereka, menurut al-Zarnuji, adalah buah dari praktek lelaku seperti yang dianjurkannya itu, yaitu memuliakan guru.

Ingatkah anda dengan larangan penggunaan pena yang tintanya merah? Guru saya sejak sekolah dasar saya ingat betul,melarangnya. Nah, dengan alasan yang berbeda, al-Zarnuji pun melarangnya. Serentetan larangannya lainnya akan ditemukan dalam bukunya itu.

Pada akhirnya saya berpendapat: relevan atau tidaknya buku ini dengan dunia pendidikan sekarang tergantung dari sisi mana kita melihat dan bagaimana kita memperlakukannya…