SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Kamis, 03 Februari 2022

PEMBUKTIAN DALAM ISLAM

Dalam ilmu hukum, ada istilah atau asas hukum yg berbunyi "actori incumbit probatio", yg artinya: "barang siapa mendalilkan, maka wajib membuktikan". Semua anak hukum tahu dan paham itu. Itu perdata. Kalau dalam hukum pidana berlaku asas "actori incumbit onus probandi": "siapa yg menuntut ke muka sidang pengadilan maka dia yg wajib membuktikan"

Dalam ilmu fikih, ada terminologi yang hampir mirip dan sama. Ada istilah "qazaf". Istilah ini merujuk kepada seseorang yg menuduh orang lain berzina, tapi tidak dapat membawa minimal 4 orang saksi. Perbuatan seperti ini tentu merugikan nama baik, kehormatan dan kesucian orang yang dituduh. Pelaku qazaf, selain tuduhan nya di anggap palsu dan mengada-ngada, syariat juga mengharuskan pelaku nya dihukum cambuk 80 kali. Bayangkan, betapa Islam sangat menjaga kehormatan seorang Muslim. Sesama muslim tidak boleh menuduh orang sembarangan, jika tidak punya bukti.

Amat berat konsekuensi dan langkah yang harus dilakukan orang yang melakukan qazaf. Ia harus memenuhi syarat yang diterima persaksiannya. Kemudian, ia harus membawa empat saksi yang memiliki prasyarat spesifik. Jika gagal membuktikan tuduhannya, justru sang penuduh harus diberikan hukuman had cambuk sebanyak 80 kali. Selain itu, persaksiannya di masa depan tidak akan diterima karena cacat yang pernah ia lakukan

Soal empat orang saksi dalam tudingan zina juga memiliki syarat yang cukup detail. Saksi tersebut harus memenuhi kriteria, laki-laki, baligh, berakal, adil, beragama Islam. Kemudian keempatnya haruslah melihat perbuatan zina dengan mata kepala sendiri dan dalam waktu dan tempat yang sama. Keterangan saksi haruslah jelas. Jadi sangat kompleks, dan njlimet. Tapi syarat itu sudah disebutkan para ulama, di banyak sekali kitab-kitab fiqih.

Bukti harus ditunjukan, hukum juga harus ditegakkan walau langit akan runtuh (fiat justitia ruat caelum). Jadi, hukum di dunia ini, ada aturan nya, tidak boleh kita sembarang menuduh orang dengan modal "katanya". Bisa gawat dunia persilatan, jika harus mengurusi orang dengan modal "katanya". 

Selain pembuktian di dunia, jangan lupa, ada hukum Allah, di akhirat kelak yang pasti tegak, transparan dan adil. Kalau di dunia saja tidak dapat menunjukan bukti, apa yg mau kita pertanggung jawabkan ketika menghadap rabb, yang Maha adil kelak. Kebaikan seberat zarah (atom) akan dibalas, apalagi kejahatan. Membuang duri di jalan bisa jadi sebab seseorang masuk surga, begitu juga sebalik nya. 

Hidup ini singkat, bukan lama. Jangan aniaya orang, jangan dzolim, jangan makan titik peluh. Yang kaya-kaya dulu mati, yang miskin juga pergi. Buat masalah orang lain hilang, Allah buat kita senang.

Mati itu sebuah keniscayaan, ingin dikenang sebagai apa setelah kematian, itu baru pilihan!

Sabtu, 13 November 2021

MANUSIA, SEMESTA DAN PERENUNGAN DIRI

Manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah Allah dengan tugas antara lain: Mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61), mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. al-Maidah : 16), dengan cara beriman dan beramal saleh (Q.S. al-Ra’d : 29), bekerja­sama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam mene­gakkan kesabaran (Q.S. al-’Ashr : 1-3).

Untuk tugasnya itu manusia diberi ilmu, "nama-nama segala", dan berbagai atribut serta potensi lainnya yang tidak dimiliki makhluk lain, termasuk potensi syaithoniyah atau setidaknya perangkat yang bisa mengikuti khuthuwat al-syaithoniyah.

Sementara itu, semesta memiliki regulasi sendiri bahkan sejak sebelum manusia ada. Ia menjaga ketertiban dan keberlangsungan hidupnya sendiri, dengan atau tanpa manusia (tentu ada malaikat-malaikat yang berperan). Siklus daur ulang alam begitu sempurna bagi dirinya sendiri, tidak kurang tidak lebih. Semua serba pas, serba teratur sehingga disebut sebagai cosmos.

Begitu manusia ada, apa yang terjadi? Manusia  mengintervensi cosmos itu lalu menimbulkan dinamika baru yang tak jarang berbentuk kerusakan. Kita tahu, sebelumnya malaikat pernah mempertanyakan untuk apa Tuhan mencipta makhluk yang akan merusak dan menumpahlan darah? Tuhan menjawab diplomatis dan penuh teka-teki: Aku mengetahui apa yang kalian tidak tahu (Q.S. Al-Baqarah: 30).

Nah, kalau semesta punya sistem/regulasi sendiri, mekanisme melestarikan diri sendiri, apa fungsinya manusia di semesta ini?

Saya menduga (belum berani "menafsiri") hanya menduga bahwa sebetulnya manusia itu turun ke bumi pada dasarnya adalah untuk mengurusi dirinya sendiri. Dunia ini tidak di apa-apakan juga tetap lestari kok meski tanpa proyek manusia untuk pelestarian alam. 

Mengurusi diri sendiri bagaimana? Ya ngurusi diri sendiri biar tidak merusak.

Jadi dengan manusia tidak merusak, semesta sudah lestari karena, sekali lagi, manusianya itu yang ngisruh mekanisme kelestarian alam semesta. Coba cek, setiap kerusakan di situlah ada jejak tangan dan kaki manusia.

Setelah tidak merusak, manusia bisa menjalankan fungsi-fungsi lainnya dengan baik.

Bagaimana agar tidak merusak? Diantaranya: jangan serakah, jangan mementingkan diri sendiri, kendalikan nafsu, kelola pikiran dengan benar, dan seterusnya dan seterusnya. So, manusia harus jadi khalifah untuk dirinya sendiri dulu.