SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Rabu, 09 November 2022

CADAR

Wanita menutup wajahnya bukanlah sesuatu yang aneh di zaman kenabian. Karena hal itu dilakukan oleh seluruh ummahatul mukminin (para istri Rasulullah) dan sebagian para wanita sahabat. Sehingga merupakan sesuatu yang disyariatkan dan keutamaan.

Pun juga, wanita yang membuka wajahnya, itu dilakukan oleh sebagian sahabiah. Bahkan hingga akhir masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berlanjut pada perbuatan wanita-wanita pada zaman setelahnya.

Bahkan, dalam Kitab Tahrirul Mar’ah fi ‘Ashrir Risalah (kebebasan perempuan pada zaman risalah) karya Syekh Abdul Halim Abu Syuqqah. Kitab ini terdiri dari 6 jilid yang berisi riset oleh Syekh Abdul Halim Abu Syuqqah terhadap kebebasan perempuan di era kerasulan berdasar Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih. Beliau menarik kesimpulan bahwa walaupun seluruh istri nabi memakai cadar, tapi tidak ada satu pun istri sahabat Nabi yang bercadar.

Seorang muslim tidak boleh merendahkan wanita yang menutup wajahnya dan tidak boleh menganggapnya berlebihan. 

Dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang mewajibkan cadar (Niqab) begitu kuat; menunjukkan kewajiban wanita untuk berhijab (menutupi diri dari laki-laki) dan berjilbab serta menutupi perhiasannya secara umum. 

Dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang tidak mewajibkan cadar juga sangatlah kuat; menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan aurat yang harus ditutup.. (jami'u badaniha, ila al wajha wal kaffaini).

Jadi, jangan mengolok-olok wanita ber-niqab, jangan pula menganggap ingkar wanita yg memperlihatkan wajahnya.

Minggu, 09 Oktober 2022

HAJI PENGABDI SETAN

 

Dalam hadits qudsi Riwayat Imam Muslim ditegaskan : Allah SWT dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan Allah SWT dapat ditemui di sisi ka'bah. Dengan kata lain, Allah SWT dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta'addiyah afdhal min al-qashirah” (ibadah sosial jauh lebih utama daripada ibadah individual). 

Ketika banyak anak yatim terlantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah SWT roboh, banyak orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai. Lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita parut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah SWT?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur di sisi Allah SWT. Apabila motivasi ini yg mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah SWT, melainkan karena menuruti perintah setan.

(Dikutip dari buku "Haji Pengabdi Setan", Karangan Prof. K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.A (Alm))